Nasib Pendidikan Indonesia

Dua orang ibu sedang bertemu, dan obrolan mereka berkisar tentang anak-anak mereka. Ibu yang satu berkata: "jeng anakmu yang kelas 5 SD itu dapat ranking nggak waktu pembagian lapor kemarin?". Ibu kedua menjawab:" Wha nggak tu mbak, yach kalo prestasi si Tony mah biasa-biasa saja, paling ranking urutan ke 20 dari 40 siswa dikelasnya. "Kalo si Andi anak mbak gimana?". "Kalo Andi mah dia anak pintar, dari kelas 1 SD, dia selalu mendapat ranking ke-1, memang anak yang pintar, dan saya yakin dia akan berhasil dalam hidupnya nanti" jawab ibu yang pertama.

Mari kita renungkan pernyataan ibu yang pertama tadi bahwa anaknya selalu mendapat rengking dan berasumsi anaknya bakal menjadi sukses dikemudian hari. Apakah ibu ini benar?, yach dia bisa benar atau juga bisa salah. Coba kita lihat banyak sekali contoh seorang sarjana yang mempunyai nilai yang gemilang di perguruan tinggi justru bertahun-tahun menganggur, atau kalo punya perkerjaan yach kerjaannya gitu-gitu aja. Banyak anak2 yang mempunyai nilai tinggi di sekolah tapi justru mereka tidak berhasil di dunia kerja. So saya perfikir kalau begitu kesuksesan kita di dunia kerja tidak dijamin dengan 8, 9 even 10 nilai matematika atau fisika.

Saya mempunyai seorang teman satu SMA dan kemudian duduk di perguruan tinggi yang sama. Terus terang kalo waktu itu dilihat prestasi akademisnya, Boroh-boroh mao ranking, naik kelas aja sudah syukur, dan nilai dia di kuliah juga tidak begitu mengagumkan. Lain dengan saya yang dari SMA dapat dikatakan mempunyai nilai yang tinggi dan dapat bertengger di tingkat Ranking 5 besar di kelas, dan di perguruan tinggi nilai saya juga sangat mengembirakan. Waktu itu dengan sombongnya dalam hati saya bahwa nantinya saya akan meraih kehidupan kerja yang jauh lebih baik dari teman saya ini. 

Tetapi…………Lihatlah sekarang, Teman saya ini telah menjadi seorang Sales Manager yang sukses yang mempunyai gaji puluhan juta rupian dengan fasilitas mewah dari perusahaan dann tentunya bonus-bonus tambahan diakhir tahun. Kemudian saya lihat ke diri saya? apa yang telah saya dapat di perkerjaan sekarang, saya telah bekerja 5 tahun, apa yang saya dapat, even Rumah saya belum bisa membeli, uang gaji saya sebulan cuma cukup untuk makan? dan pekerjaan saya yach begitu-begitu saja. Saya tidak tahu kapan saya akan mempunyai rumah, mempunyai mobil…Kemana semua kebanggaan saya waktu sekolah dan kuliah? dimana mamfaat nilai 9 untuk matematika saya, dimana nilai A untuk mata kuliah saya, dimana mamfaat nilai IP 3.5 dari transcript nilai saya?dimana mamfaat semua??? Dan Memang bos saya tidak pernah menanyakan nilai metematika saya?. Jadi akhirnya saya berfikir untuk apa saya mati-matian belajar, mati-matian mengikuti les bimbingan belajar, buat apa orang tua saya membangga-banggakan saya karena saya mendapat rengking atau dapat nilai yang tinggi??? Toch semuanya itu tidak bisa MENOLONG saya menjadi orang yang sukses…

Maka saya tidak begitu memaksa anak-anak saya untuk mendapat ranking di kelas mereka. Yach dapat ranking syukur, gak dapat yach gak apa2. Toch kenapa mereka harus mati-matian untuk mendapatkan predikat "Ranking" dan mereka harus kehilangan waktu mereka untuk bermain mengasah kemampuan sosial mereka dan ketajaman intuisi kehidupan.

Memang…. arah pendidikan indonesia semakin tidak jelas, banyak sekali lulusan perguruan tinggi tidak siap untuk kerja. Karena tidak ada "link" antara material yang mereka pelajari di PT dengan dunia kerja.
Tujuan pendidikan kita hanyalah Nilai yang tinggi bukan kemampuan sejati. Kebanyakan sekarang siswa hanya menghapal pelajaran hanya untuk lulus UAN atau Lulus SPMB/UMPTN/Sipenmaru. Sehingga mereka tidak mengerti untuk apa mereka belajar.

Tidak heran kalo banyak pemimpin bangsa ini yang "Tidak pintar" atau kata lainnya bodoh. Menghasilkan kebijaksanaan yang tidak bijaksana, keputusan yang tidak masuk akal. Yach itu…. produk pendidikan yang salah selama 30 tahun terahir ini. Yang cuma mengandalkan nilai yang tinggi dan bukan kemampuan skill. Contohnya seperti dalam hal menghemat BBM, muncul usulan untuk mengatur nomor mobil yang mengisi BBM di SPBU, nomor mobil yang ganjil hari Senin, dan yang genap hari selasa…. Apa ini tidak bisa dibilang GUOOBLOOOKKKK!!,  yach usulan ini tidak mengatasi masalah, hanya kesemerawutan yang akan terjadi, tadinya orang cuma mengisi 10 liter, jika peraturan ini diterapkan jadi mengisi Full tank, karena besok udah nggak bisa ngisi BBM lagi. Juga kebijaksanaan 3 in 1, yang notobene tidak menyelesaikan masalah. Dimana jocky-jocky 3in1 dapat mengelabuhi petugas.

Kembali ke masalah pendidikan, saya juga prihatin dengan tingginya biaya pendidikan sekarang, even sekolah atau Perguruan tinggi. Yang negeri aja mahal apalagi yang swasta. Kasihan sekali dengan orang orang tua siswa yang harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk anaknya berkuliah.

Yang Ironi adalah seorang anak telah menghabiskan biaya kuliah ratusan juta rupiah dan kemudian menggangur, sia-sialah pengorbanan. Walaupun dapat perkerjaan mendapat gaji yang tidak "Make sense". Nyerempet dikit dengan UMR. Seorang sarjana S1 saja sekarang 1st Entry biasanya di gaji 800- 1 juta rupiah.

So…bagi orang tua yang sedang menyesekolahkan anak2nya , pasang urat leher saja dan siap-siap kecewa anak2 akan ngangur…

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI PENDIDIKAN (BUKAN CUMA PAHLAWAN AJA &*()&%#$&^#^#$_??!!!!)

Leave a Reply