Ngerinya naek pesawat…
Ngerinya naek pesawat…
“Dengan tiba-tiba mesin pesawat berderu kencang dan laju pesawat semakin cepat… cepat… cepat , badan terhentak kebelakang, terasa getaran-getaran hebat.. dan landasan pacu semakin dekat dengan batasnya… tapi kok pesawat tidak berajak dari cengkraman bumi…………..”
Saat-saat ini lah yang paling menakutkan dalam hidup saya.. sewaktu pesawat tinggal landas (take off). Jangan-jangan gagal take off dan akan terhempas kembali menimpah rumah-rumah penduduk seperti yang menimpah Mandala air di Polonia. Lega rasanya bila dipastikan pesawat dapat mengangkasa dengan sempurna, tetapi ini juga bukan akhir dari semuanya, bahaya dan maut tetap menanti kita sepanjang perjalanan. Memang kenapa kita selalu diingatkan untuk “Fasten your seat belt while takeoff and landing”, karena sebagian besar terjadi kecelakaan terjadi pada saat takeoff dan landing.
Walau sudah ratusan kali naik pesawat, tapi ketakutan itu selalu ada. Dalam hati kecil ini apakah hari ini adalah hari terakhirku di dunia?. Satu hal yang agak menenangkan hati adalah satu survey yang dilakukan di Amerika Serikat menyatakan bahwa “The safest transportation is airplane”. Kalo kita lihat statistik yach mungkin survey ini benar, berapa kali sich kecelakaan udara setiap tahun, bisa 3 atau 2 kali, atau tidak terjadi sama sekali. Lain halnya dengan transportasi darat yang notabene menduduki peringkat tertinggi perenggut nyawa penggunanya. Tapi saya yakin rasa was-was ini tidak akan anda rasakan kalo naek Angkot khan?, kalo toh angkotnya terbalik atau bertabrakkan kita pikir dengan mudahnya kita menyelamatkan diri. Tapi…. kalo pesawat rusak atao bertabrakan di udara apa kita sempat menyelamatkan diri? Pake parachute aja nggak tahu caranya, kalo perachutenya ada. Kalo nggak ada yach cukup berdoa saja.
Sejak tahun 2000, bisnis penerbangan komersial swasta berkembang pesat setelah terpuruk sejak krisis moneter tahun 1997. Tentunya Lion Air yang sebagai pionirnya disusul dengan Batavia air, Sriwijaya air, Wings air (low end dari Lion air), dan yang terakhir adalah Air Asia yang mengusung konsep LCC ( Low Cost Carrier). Konsep LCC inilah memungkinkan penerbangan menekan ongkos operasi dan yang berdampak turunnya harga tiket. Bagi calon penumpang maskapai LCC ini jangan berharap akan mendapat perlakuan seperti pada maskapai “traditional” lainnya. Tidak ada pramugari yang melayani anda di cabin, tidak ada Seat Number yang ditentukan pada waktu check in, jadi siapa duluan masuk bisa duduk dekat jendela atau paling depan dekat pilot (biar duluan sampai kali..??) dan bila anda lapar atau haus beberapa macam Snacks dapat di beli di kantin kecil di pesawat (kayak di Kereta aja).
OK, dengan konsep di atas timbul suatu pertanyaan di benak saya, Apakah faktor Safety di dahulukan? Jangan-jangan untuk mengejar profit maka faktor safety ini di abaikan.
Satu faktor yang saya perhatikan adalah umur pesawat, Dari semua armada airline di atas hanya 1-2 pesawat baru, sisanya adalah pesawat REKON (rekondisi). Beberapa dari pesawat ini buatan tahun1982, artinya sekarang umurnya 24 tahun. Coba bayangkan sebuah mobil yang telah berusia 24 tahun gimana sich bentuknya?. Kebanyakan dari pesawat-pesawat ini disewa dari beberapa maskapai luar yang tidak mao menanggung biaya parkir pesawat di hanggar. Dan memang biaya Parkir pesawat di hanggar lebih besar dari pada kalo pesawat ini beroperasi. Jadi disewain deh ke kita.
Ada yang lucu plus mendebarkan tentang perjalanan hidup satu pesawat. Sejak diproduksi oleh perusahaan Boing tahun 1985, pesawat ini dioperasikan oleh airline lokal Amerikat Serikat. Kemudian ketika tahun 1995 setelah 10 tahun dan waktu operasi dinilai cukup, pesawatnya disewakan lagi ke airline dari negara Amerika Latin. Setelah beroperasi 6 tahun pada tahun 2001 pesawat ini kemudian diambil alih oleh airline swasta Indonesia. Jelas ini terlihat dari beberapa tulisan seperti kencangkan sabuk pengaman dalam bahasa Spanyol. Lha kita menjadi pihak ketiga pengguna pesawat ini, mungkin kata “Bekas” bukan kata yang layak untuk pesawat ini, Maaf kalo saya bilang “Ronsokan”
Secara awam saja, pesawat baru saja bisa mengalami kecelakaan apalagi dengan pesawat yang lebih 20 tahun beroperasi? Yah yang bisa menjawabnya adalah bila terjadi kecelakaan. Memang kita mempunyai Badan yang memberi lisensi kelayakan udara, tapi apakah badan ini independent? Jangan-jangan kayak kita ngurus SIM, STNK atau KIR yang bisa dengan cara “NEMBAK”, sehari jadi.
Jadi sangat tidak aneh bila terjadi beberapa kasus kecelakaaan udara belakangan ini yang kebanyakkan terjadi karena faktor kondisi pesawat.
Daftar_kecelakaan_pesawat_penumpang di Indonesia
2004
- 3 Juli - Lion Air Penerbangan 332 di Palembang
- 30 November - Lion Air Penerbangan 538, jatuh saat mendarat di Surakarta, Jawa Tengah Indonesia.
2005
- 10 Januari - Lion Air Penerbangan 352 dari Jakarta - Padang membawa seorang penumpang gelap.
- 10 Januari - Lion Air Penerbangan 789 gagal lepas landas dari Kendari, Sulawesi Tenggara.
- 15 Februari - Lion Air Penerbangan 1641 terperosok di Bandara Selaparang, Mataram, NTB.
- 5 September: Pesawat Boeing 737-200 Mandala Airlines Penerbangan RI 091 jatuh dekat Bandara Polonia Medan dengan membawa 117 orang di dalamnya.
- 11 Februari –Adam Air Boeing 737-300 no register PK-KKE terbang dari Jakarta menuju Makasar. Pesawat naas itu kesasar hingga turun di Tambolaka, Sumba, NTT, setelah terbang selama sekitar tiga jam dari Jakarta sempat kehilangan navigasi. Pilot mengandalkan penglihatan mata dengan terbang rendah (untung siang kalo malam gimana hayo?) Akibatnya 3 jam semua penerbangan dari kota-kota jawa, kalimantan, dan Bali, dan Sulawesi di tunda, takut ketabrak ama pesawat yang nyansar (Kalo nyasar di darat bisa nanya ke orang lha kalo di atas tanya ama siapa??&#&*)($#()^%@#%)
- 4 Maret - Lion Air Penerbangan IW 8987 dari Denpasar - Surabaya yang membawa 156 orang tergelincir saat mendarat di Bandara Juanda karena cuaca buruk, semua penumpang selamat.
- 5 Mei - Batavia Air Penerbangan 843 jurusan Jakarta - Ujung Pandang - Merauke setelah beberapa saat mengudara pilot meminta balik ke bandara, pada saat mendarat ban pecah dan pesawat tergelincir di landasan pacu Bandara Soekarno Hatta, 127 penumpang selamat, 4 orang luka-luka.
Dan akan banyak lagi daftar kecelakaan di saat mendatang.
Sebagai orang awam coba kita kalkulasi pendapatan airline dari tiket penumpang. Penerbangan Jakarta Semarang dengan tiket Rp.350.000, jika kapasitas tempat duduk Boeing 737-300 adalah 128 seat dan terisi semua, maka total pendapatan trip Rp. 44.800.000. Jumlah uang sedikit ini apa cukup untuk menutupi biaya penerbangan yang tinggi.
Bensin pesawat, Sewa fasilitas airport, gaji pilot ama pramugari, gaji ground staffs, maintenance, asuransi, dll?.
Jadi wajar kalau beberapa airline yang “mengorbankan” beberapa faktor untuk menutupi rugi. Ya seperti ban pesawat yang harus diganti setelah 1000 x takeoff dan landing diperlama menjadi 1500 x, wajar kalo ban pesawat sering pecah. Atau “bensin” nya pesawat (Avtur) yang dicampur air yang terjadi pada pesawat Boeing 737-200 milik Batavia Air pada 19 oktober 2005 yang lalu. “Kalo motor 2 tak di kasih bensin campur tarikan makin Kuenceng, gak tahu kalo ama pesawat, apa nanti nggak Ndut-ndutan di atas”.
Perhatian pemerintah juga kurang dalam hal ini, mungkin asal pajak masuk pendapatan Negara bertambah, soal factor keselamatan penumpang menjadi agenda ke-13 untuk dibahas, ini sinkron dengan tulisan saya sebelumnya tentang Citizen is state’s asset.
Hanya satu airline yang saya dapat (Sedikit) percaya bahwa mereka mengutamakan faktor safety adalah GARUDA, meski saya tahu maskapai sangat dekat dengan kebangkrutan dan make lost that profit, tapi saya yakin pemerintah indonesia sebagai pemegang saham utama akan mati-matian menyelamatkan nyan dengan memberikan subsidi agar maskapai ini tetap berjalan. Khan malu kalo garuda kecelakaaan atau jatuh. Lain halnya dengan maskapai swasta yang mati-matian harus survive dalam operasinya. Jadi dapat dikatakan maskapai yang teraman di Indonesia adalah Garuda. Yach kalo mao dibanding dngan Singapore Airlines atao Malaysia Airline jaoh banget bedanya. Tapi kalo dibandingkan dengan maskapai swasta indonesia yang lain, Insya Allah Selamat. Garuda menjual tiketnya lebih tinggi dibandingkan yang lain antara 30 bahkan 100 %. Tapi kalo tarohanya “MATI alias IS DEAD, maka saya lebih pilih bayar kelebihan 300 sampai 500 ribu.
Saya pribadi termasuk pengguna jasa pesawat yang sering dikarenakan pekerjaan saya yang harus travel ke daerah-daerah di Indonesia. Rasa takut itu selalu ada sich, tapi to mati itu di tangan Tuhan di tempat tidurpun kita bisa mati kalo udah waktunya.
Tapi ketika di dalam pesawat di cuaca buruk hujan dan berkabut, badan pesawat bergoncang hebat dan saya lihat keluar sayap pesawat meliuk-liuk seakan mao patah, Sembari berdoa saya berpikir, “Jangan-jangan ini adalah akhir dari hidup saya”…….
June 27th, 2006 at 12:50 am
Dari judulnya, Gw kira Ikman takut ketinggian
Hehe…ndak taunya….
Anyway, poor Indonesian:( Pesawat aja beli bekas pake…emg miskin apa karena di pake utk korupsi semua yah?!!
Or maybe related to your post before : “Rakyat adalah beban negara”
July 6th, 2006 at 11:24 pm
Tapi Nelly, kamu juga sering lho pulang ke Aceh naek pesawat, gue saranin naek Garuda aja, lebih 3-5 ratus ribu gk apa-apa asal selamat.
Khan uang nggak bisa ngantiin nyawa
Ikman
December 27th, 2008 at 10:44 pm
Hi there! I love your page
If you r looking for Paid Surveys this is the site for you.
Start advancing your paychecks on http://tinyurl.com/9eeaop