Archive for July, 2006

Pengalaman Pertama Naik Pesawat Air Asia

Monday, July 31st, 2006

Airasia

 “Perhatian perhatian, para penumpang pesawat
Airasia No. QZ7525 tujuan Jakarta diharap segera menujuh gerbang 1, terima
kasih”.

Serta merta semua calon penumpang pesawat ini
bersegera menuju ke gerbang yang dimaksud, yach layaknya seperti naik bus di
terminal, tidak ada nomor seat pada boarding pas, sehingga siapa duluan masuk
pesawat dapat memilih tempat duduk sesuka hati. Saya tanya ke seorang calon
penumpang, “Pak nanti mao duduk dimana?”, “Wah saya pasti mao duduk di depan
donk” jawab si bapak pasti. “Lho kok didepan pak? Saya justru mao pilih duduk paling
belakang, karena disemua kecelakaan yang selamat pasti yang duduk paling
belakang”,
Si bapak :??^#$^)_&@#$#^??*@#&$.


Cuaca Buruk

Waktu itu jam
17.50, 28 Juli 2006, waktu saya memasuki ruang tunggu Bandara Minangkabau
Padang, untuk segera memasuki pesawat. Kebetulan agen langganan saya memberikan
tiket Airasia, karena penerbangan pesawat ini adalah the last flight ke Jakarta
hari itu. Airasia..? tentunya saya masih bertanya-tanya kenapa kok Airasia.
Tapi yach sudahlah! Yang penting saya malam ini sudah ada di rumah setelah
hampir satu minggu berada di Padang untuk kepentingan bisnis.

Sewaktu saya
menuju bandara cuaca lagi hujan dan berkabut. Teman saya yang mengantar
berkata, “Wah pak saat yang buruk untuk naik pesawat, banyak awan hitam di
langit”. “Yach mudah-mudahan cuaca membaik sebentar lagi” jawab saya penuh
harap.

 

Pesawat dialihkan ke Medan

Setelah menunggu
hampir satu jam di ruang tunggu, terdengar pengumuman bahwa 2 pesawat dari
Jakarta yang seharusnya tiba di Padang dialihkan dan mendarat di Medan, karena
pilot tidak dapat melihat landasan. Sedangkan pesawat Mandala yang harusnya
take off dari Bandara Minangkabau pada jam 18.00 membatalkan takeoff karena
kabut semakin tebal, dan ketinggian air di landasan pacu melebihi batas yang
diijinkan.

Setelah menunggu
3 jam, akhirnya pada jam 21.15 Pesawat Air Asia yang ditunggu mendarat di
bandara Minangkabau.

 

Konsep LCC (Low Cost
Carrier)

Air Asia adalah
maskapai pertama di Indonesia yang mengusung konsep LCC atau Low Cost Carrier. Dimana manajemen
maskapai menerapkan kebijaksaaan untuk menekan biaya operasional dan dampaknya
akan menurunkan harga tiket. Waktu itu harga tiket Padang- Jakarta hanya Rp.
317 ribu. Dibandingkan dengan ongkos bis antar kota dengan tujuan yang sama,
mungkin harganya tidak jauh berbeda. Beberapa faktor yang dapat menurunkan biaya
adalah: Sedikitnya jumlah pramugari, jika pada maskapai lain dengan jenis
pesawat yang sama, Air Asia mempunyai kabin kru yang sedikit, hanya 2 pilot dan
3 orang pramugari untuk pesawat Boeing 737-400 dengan kapasitas 140 tempat
duduk. Lain halnya dengan maskapai lain yang mempunyai 5-7 pramugari dalam satu
pesawat. Lebih-lebih Lion Air, kadang pramugarinya banyak sekali, tapi
kebanyakan hanya nampang doang, kerjanya minus, dengan penumpang agak kurang
senyum,  biasa cewek cantik belagu.

Snack dan
beraneka makanan dan minuman di dalam pesawat dijual seperti halnya di darat.
Pramugari akan menjajakan makanan dan minuman dengan harga tertentu. Jadi kalau
dulu kita beranggapan makan minum di pesawat itu gratis, maka di Air Asia
jangan berharap dech..

No seat number,
Di boarding pass tidak tertulis nomor
kursi dimana kita harus duduk tidak seperti maskapai lain yang telah menentukan
dimana anda harus duduk. Kebijaksanaan ini beralasan untuk mengurangi jumlah Ground Staffs yang mengatur check in,
boarding pass dan luggage. Jadi suasananya seperti di kereta api atau bus di
terminal, pada saat masuk terjadi desak-desakan siapa yang paling cepat masuk
ke pesawat. Ada satu hal yang aneh, kalau di bus orang-orang berebut agar bisa
duduk di depan dekat sopir dengan alasan bisa melihat pemandangan di luar,
tetapi kalau di Air Asia, justru orang-orang bersegera masuk pesawat agar dapat
duduk di deretan kursi paling belakang. Wajar bila demikian, karena hampir
semua kecelakaan, yang selamat biasanya duduk di deretan kursi paling belakang.

Tapi justru
karena tidak ditentukan nomor tempat duduk, proses pengisian penumpang menjadi
lebih cepat karena tidak ada penumpang yang salah tempat duduk.

 

Terbang Mulus

Pesawat Air Asia
yang saya tumpangi kali ini lumayan tidak tua seperti maskapai swasta
Indonesia lainnya. Paling tidak jumlah kursi tidak dikurang atau ditambah.
Kondisi Interior pesawat juga tidak mengecewakan. Saya tidak bisa mengatakan
bahwa semua pesawat Air Asia bagus, karena saya baru kali ini menggunakan jasa
maskapai aliansi antara Malaysia dan Indonesia ini. Untuk lebih detail dapat
melihat tulisan saya tentang kondisi
dan umur pesawat maskapai swasta Indonesia.

Ketika pesawat
kita take off, hujan masih rintik-rintik tetapi langit cerah dan kabut telah
turun. Alhamdulillah penerbangan
malam itu tidak se-frightening
sebelumnya dan justru berjalan dengan mulus tanpa goncangan yang berarti.
Mungkin malam itu langit cerah setelah hujan turun dengan lebatnya. Setelah
terbang selama hampir 1 ½ jam, kita mendarat di Bandara Soekarna Hatta Jakarta.
Tak lupa sebelum keluar dari pesawat saya hidupkan HP dan mengirim sms di
keluarga di rumah bahwa saya sudah tiba dengan selamat di Jakarta
:)

Merasa amankan Anda? ( Do you feel secured?)

Sunday, July 30th, 2006

“ Apa saya mempunyai uang bila saya sakit?, bagaimana dengan cicilan rumah saya yang tinggal 8 tahun lagi bila saya tiba-tiba di PHK oleh kantor? Bagaimana jika saya (paling apes) meninggal? Apa istri dan anak-anak saya dapat meneruskan hidup mereka? “

Rasa was-was

Saya yakin pertanyaan-pertanyaan di atas selalu ada di kepala setiap orang khususnya pegawai swasta seperti saya. Rasa was-was itu selalu ada di benak saya setiap hari dan seperti menjadi suatu beban yang tidak kunjung hilang. Saya berumur 30 tahun di akhir tahun 2006 ini, telah selama bekerja 6 tahun pada salah satu perusahaan swasta.Memang di perusahaan ini para karyawan didaftarkan ke Jamsostek, tapi terus terang saya tidak begitu mengerti perlindungan apa yang kita dapat dari program ini, dan juga saya mendengar perlakukan tidak simpatik dari petugas rumah sakit dan instansi lainnya kepada karyawan yang menggunakan fasilitas ini.

Keadaan perusahaan yang tidak dapat diprediksi ke depan, saya juga tidak yakin apakah perusahaan ini akan tetap exist 2-5 tahun mendatang. Bila waktunya tiba perusahaan bangkrut/failit, dan harus mem-PHK karyawannya, maka matilah saya…. Atau jika saya melakukan kesalahan tidak peduli apakah kesalahan itu besar atau kecil, disengaja atau tidak sengaja yang konsekuensinya di PHK. Kemana saya harus pergi?. Saya yakin tidak akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah, mengingat keadaan negeri ini yang semakin hari morat marit dan lapangan kerja menjadi sulit. Apalagi usia saya tidak muda lagi, dan tentunya tidak semudah kalau saya berumur 24-27 tahun. Dimana untuk range usia ini dapat mendapat pekerjaan agak lebih mudah pada Entry position. Tapi untuk pelamar yang berumur 30-40 tahun maka jabatan yang diincar tidak akan Entry point lagi tapi lebih ke jabatan manager atau supervisor. Tetapi sekali lagi berapa buah jabatan manajer yang lowong pada setiap perusahaan? Paling satu atau dua.

Seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998 di puncak krisis moneter. Banyak sekali perusahaan yang mem-PHK karyawannya. Untuk jabatan OB (office boy) mungkin lebih mudah mendapatkan pekerjaan kembali yach paling jadi pelayan restorant, hitung-hitung downgrade dari bersih-bersih di gedung bertingkat sekarang tetap “bersih-bersih” di restoran pinggir jalan. Lha kalo dulunya seorang manajer terus di PHK dan mengharapkan pekerjaan lain, masak jadi OB, downgrade nya curam banget! Freefall kali. Maka seperti yang kita baca di koran-koran banyak mantan manajer ini yang jadi gila dan stress.

Karyawan BUMN

Lain halnya dengan teman-teman saya yang bernasib baik dapat bekerja di Perusahaan BUMN , pegawai negeri atau perusahaan yang “Well established” lainnya. Dimana jaminan kesehatan dan dana pesiun diatur dengan jelas. Mereka tidak perlu was was toch semua telah dan akan di tanggung oleh perusahaan. Seperti Pertamina, PLN, Telkom yang memberikan jaminan kesehatan dan hari tua kepada karyawannya.

Nggak mungkin khan kalo PLN atau PLN tiba-tiba bangkrut? Walaupun bangkrut seperti PT Dirgantara Indonesia (DI) tetapi pesangon yang besar telah menanti mereka.

Life is so fragile

Tapi ketika saya melihat diri saya sekarang, betapa “fragile” -nya hidup saya. Sewaktu-waktu dapat hancur lebur dikarenakan mungkin saya sakit parah, kecelakaan, dipecat, atau perusahaan dimana saya bekerja jatuh bangkrut. Yach memang semuanya kita serahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Esa, Rezeki itu telah di atur, Tetapi saya lebih banyak berfikir realistis!. Kalo saya dipecat tentunya gaji bulanan saya terhenti, tentunya juga keuangan saya akan memburuk  Dari mana uang untuk membayar cicilan KPR, uang makan bulanan, biaya sekolah anak-anak, tagihan listrik, tagihan PAM, dan biaya hidup lainnya?. Mungkin saya mempunyai tabungan emergency tapi uang tabungan ini bertahan sampai kapan? Apakah cukup sampai saya dapat pekerjaan baru, atau bila tabungan saya habis, maka tidak ada pilihan kecuali menjual barang-barang, jual TV, jual kipas angin, jual tempat tidur, jual kompor, jangan-jangan akhirnya jual istri, kalo jual diri rasanya nggak mungkin, Tante girang mana yang mau memakai jasa saya dimana saya tidak ganteng lagi dan tubuh saya tidak lebih menarik dari suami-suami mereka (baca: gendut). dan dipastikan saya berada di ambang kehancuran.

Kalau saya terkena kecelakaaan atau sakit keras, waduh dari mana saya bisa membayar biaya pengobatan saya? Biaya rumah sakit aja puluhan juta bahkan ratusan juta. Bagaimana jika sakit saya agak bonafite kaya’ sakitnya orang kaya: Jantung, Liver, Gagal ginjal, stroke dan penyakit “keren” lainya.

Insurance, no way!

Ada teman yang menyarankan untuk masuk asuransi jiwa dan kesehatan, sehingga bila kita sakit atau meninggal maka asuransi dapat menanggung semua biaya yang timbul. Tetapi ada juga yang mempunyai statement, buat apa masuk asuransi bila nanti kita Claim maka pihak asuransi akan berusaha sekeras mungkin untuk menolak claim dengan alasan ini itu. Dan pada akhirnya uang kita tidak bisa diambil kembali. Atau the worse case, perusahaan asuransinya failit seperti yang terjadi pada Prudential beberapa waktu yang lalu.

Life day to day

Akhirnya saya berkesimpulan menjalani hidup ini dari hari ke hari saja. Kita masih hidup hari ini syukur, masalah besok?, “tak” pikirin ntar. Bisa makan enak hari ini yach nikmati aja, mungkin besok udah nggak bisa makan lagi, bisa jadi karena tidak ada uang untuk membeli makanan atau sakit keras dan tidak bisa makan atau sudah ada di liang kubur (pasti dong nggak butuh makan lagi).

Hidup hanya dari hari ke hari tanpa harapan tanpa masa depan…hanya menanti nasib dan takdir dari Tuhan, iya kalau pun Tuhan masih mempunyai belas kasihan kepada hidup ini tapi kalau tidak yach…. L

Nasib Bangsa Terjajah

Wednesday, July 5th, 2006

Peristiwa-peristiwa ini terjadi di tahun 2000-an

“Hanya dua langkah berselang setelah saya meninggalkan ruangan mewah Hotel Ambhara di kawasan Blok M. Agak kaget memang melihat pamandangan yang begitu kontras, di dalam saya menyaksikan puluhan bule lagi bersenang-senang di bar, minum wiski, menghisap cerutu Cuba, menyodok bola putih di meja billyard nan hijau dan sesekali mencolek pant** si pelayan bar berwajah melayu. Tetapi apa yang saya lihat diluar hotel ini, puluhan abang-abang tukang bajaj menunggu penumpang sembari menghapus keringat dengan harapan akan mendapat uang “gocengan” dari jasa pengantar penumpang….. Diseberang jalan saya melihat anak-anak jalanan bertelanjang kaki berlari ditengah mobil dan motor sambil mengacungkan tangan meminta uang gopekan. Di sisi jalan yang lain beberapa pedagang asongan berpacu cepat memberikan uang kembalian dari pembeli di mobil yang bergegas berjalan karena lampu hijau telah menyala……

* * * * *

Waktu itu jam makan siang di 2 Gedung kembar Sumitmas di kawasan Sudirman..saya lihat puluhan pegawai lokal lagi menikmati makan siang di semua kantin sederhana. Walau pelu terus mengalir di muka mereka tidak perdulikan asal makan siang cepat terhabiskan dan kembali ke kantor tepat waktu. Terkadang karena seluruh tempat duduk terisi penuh beberapa orang harus duduk lesehan. Hanya beberapa meter dari tempat itu, di sebuah Restorant Jepang, beberapa ekspatriat Jepang berdasi rapi lagi menikmati “Terayaki” di iringi alunan musik lembut dan deraian angin sepoi-sepoi ruang ber-AC…

* * * * *

Seorang buruh sebuah pabrik milik Korea di kawasan Cibitung, sedang diomelin atasan seorang Korea karena tidak becus bekerja. Sang bos Korea ini dengan bahasa Indonesia yang sedikit “keseleo” meng-gobrok-goblokkan dan meng- anj**ng-anj**ngkan si buruh Indonesia tadi. Tanpa perlawanan si buruh Indonesia hanya mengangguk-angguk meng-iyahkan semua perkataan tidak senonoh dari si Korea tadi. Di pabrik ini buruh-buruh Indonesia harus bekerja lebih dari 10 jam sehari melebihi waktu kerja 40 jam per minggu dari Depnaker dan ironisnya mereka mendapat gaji yang hampir “nyerempet” batas UMR. Kebijaksanaan Perburuhan yang selalu memihak kepada kepentingan pengusaha dan dengan “dalih” memberikan kemudahan untuk penanaman Investasi asing. Secara nyata semua kebijaksanaan ini semakin menyengsarahkan buruh, seperti pambatasan hak untuk mendirikan atau bergabung dengan syarikat pekerja, tidak adanya kepastian perlindungan kesehatan, pesangon bila di PHK, dan kesejahteraan hari tua. Lain halnya dengan Pemerintah Perancis, setelah dilanda dengan demonstrasi besar-besaran dari buruh, President Jacques Chirac  yang memang berpandangan Sosialist membatalkan rencana UU perburuhan yang kontravesial itu. Tapi tidak terjadi di Indonesia, walau ribuan buruh berdemonstasi menentang revisi UU No.13/2003, Wapres Jusuf Kalla yang memang berpandangan Kapitalis bersikukuh untuk tetapi menjalankan revisi ini.

* * * * *

Masih segar diingatan kita seorang TKW Indonesia yang disiksa oleh majikannya di Malaysia. Tidak diberi makan apalagi gaji. Sehingga banyak TKW yang pulang ke kampung halaman dalam keadaaan sekarat atau gila. Setiap tahunnya Indonesia “mengeksport” ribuan orang TKW dan TKI tanpa dibekali dengan keahlian khusus kecuali menjadi pembantu rumah tangga dan sebagai buruh kasar di perkebunan kelapa sawit. Tidak banyak dari TKW ini, untuk menutupi biaya hidup mereka “nyambi” sebagai pelac***r atau memang agenda mereka keluar negeri hanya untuk menjalani pekerjaan ini.

* * * * *

Banyak kita lihat ekspatriat asing yang bermewah-mewah di sini, dengan segala fasilitas dari kentor dimana dia bekerja. Dari kebutuhan pribadi, anak, istri sampai makanan ANJ**NG peliharaannya di tangung kantor. Mereka hidup di apartement mewah dengan beribu fasilitas dan kesenangan. Menghabiskan malam minggu mereka di cafe atau diskotik mahal. Berlibur ke Bali atau Singapore setiap saat. Mendapatkan jatah cuti 3 bulan setahun belum terhitung untuk Cristmas dan Newyear Holiday. Mungkin mereka mendapatkan kehidupan yang lebih mewah dibandingkan mereka ada di negara asal. Coba kita lihat pegawai Indonesia yang bekerja di perusahaan yang sama, dangan gaji 1 ½ juta sebulan harus menghidupi anak-istri. Jatah cuti hanya 12 hari setahun. Harus datang tepat waktu pada jam 8.30. Selalu giat bekerja dengan harapan di akhir tahun dapat bonus tambahan.

* * * * *

Sewaktu melintas di Jalan Terogong Pondok Indah, Puluhan anak-anak bule menuntut ilmu di sebuah Sekolah international asuhan Pemerintah USA. Dengan bermacam fasilitas dan sistem pendidikan mukhta’ahir diharapkan pelajar ini dapat menjadi anak-anak yang pintar. Guru-guru yang khusus didatang dari Amerika dan negara asing akan selalu setiap untuk membimbing anak-anak ini. Setiap pagi dan sore di antar-jemput oleh mobil-mobil mewah. Tidak jauh dari itu banyak anak-anak Indonesia yang notabene “empuhnya” negeri ini, harus putus sekolah karena orang tuanya tidak bisa membiayai pendidikan mereka. Kalau pun sekolah di SD Inpress dengan dinding yang hampir roboh.

* * * * *

Makin hari hutang luar negeri terhadap badan keuangan asing seperti IMF, UNDP, ADB semakin “meruju”. Hasil kalkulasi independen, hutang ini tidak akan dapat lunas walau untuk 3 generasi mendatang. Beberapa badan keuangan ini mengintervensi kebijaksaaan interen negeri ini, seakan pemerintah kita hanyalah “boneka” permainan mereka.

* * * * *

Kekayaaan alam Indonesia dikuras habis oleh perusahaan asing yang berlindung dari kebijaksanaan “profit sharing”, yang nyata-nyata hanya menghisap madu “alam” Indonesia tanpa memberikan nilai tambah kepada penduduk Indonesia. Ribuan ladang minyak dieksploitasi, namun harga BBM tetap melambung. Tanah Riau yang kaya minyak (Nomor Polisi kendaraan Riau adalah “BM” yang berarti “Banyak Minyak”) di ‘sedot” habis untuk kepentingan perusahaan asing seperti Caltex, Total, BP, Conoco dll, tanpa ada timbal balik dengan penduduk lokal. Sangat tragis memang, Propinsi Riau yang kaya minyak tapi prosentasi IDT ( Inpress Desa Tertinggal) cukup besar. Tanah Papua yang mengandung ton emas dan perak digaruk habis oleh Freeport tanpa memberikan “added value” kepada rakyat Papua, yang kian hari nasib tidak lebih baik. Wajar bila terjadi penomena “disintegrasi” di daerah-daerah ini. Kemanakah semua uang keuntungan dari sumber daya alam ini, tak lain hanya lari ke negara-negara asing dan sedikit ke “kocek” oknum-oknum pejabat korup.

Peristiwa-peristiwa ini terjadi di tahun 1700-1943

Mijnheer en Mevrouw, Sinjo en Noni Belanda bercengkramah gembira di sebuah restoran. sedang di luar kaum pribumi bermandikan keringat menyabit rumput dan mengerjakan pekerjaan kasar lainnya.

Bila si Mijnheer dan si Mevrouw berjalan berpapasan orang-orang pribumi ini, mereka akan membungkuk dengan hormatnya sambil berkata : “TABEEK MENIIRRR……!” TABEEEEK NNDOROOO…..!

* * * * *

Seorang kakek harus kehilangan gigi satu-satunya hari itu karena ditendang oleh seorang perwira jepang di sebuah kamp kerja paksa Romusha. Dan ribuan orang-orang sakit dan meninggal dalam kondisi yang mengerikan karena perlakuan buruk oleh Tentara Jepang.

* * * * *

Ribuan gadis-gadis Indonesia dinodai kegadisannya oleh pasukan tentara Jepang yang dijadikan sebagai Jugun ianfu. Kemudian di kirim ke Birma. Philiphina dan negara lain untuk pemuas nafsu tentara di front lain.

* * * * *

Sinjo dan nony-nony Belanda pergi ke sekolah yang mewah dengan guru-guru yang spesial didatangkan dari Holland. Setiap pagi dengan gembira bernyanyi.

Wilhelmus van Nassauwe….ben ik, van Duitsen bloed….den vaderland getrouwe……

Sementara di luar gedung sekolah anak-anak pribumi dengan bertelanjang kaki belajar di bawah pohon beralaskan tanah atau dikirim ke pesantren-pesantren yang hanya belajar “ngaji”.

* * * * *

Kekayaan Tanah Indonesia dikeruk habis oleh VOC dan pemerintah Dutch East Indies, untuk memperkaya negeri Belanda yang besarnya “seujung kelingking”. Sehingga mereka bisa mendirikan bendungan (dam) sekeliling pantai dan menimbun laut sehingga dapat ditempati manusia.

Jadi apa bedanya dulu dan sekarang.?

Tidak ada beda antara dulu dan sekarang, Bangsa Indonesia tetap sebagai BANGSA TERJAJAH !!. Mungkin secara de jure, Indonesia telah resmi diakui PBB sebagai Bangsa yang merdeka sejak tahun 1949 namun apa yang terjadi di kehidupan sehari-hari tidak jauh beda dari 300 tahun yang lalu…

Apa yang dialami oleh kakek buyut kita sama yang menimpa kita sekarang, memang nasib kita tidak pernah berubah…. L

* * * * *