Merasa amankan Anda? ( Do you feel secured?)

“ Apa saya mempunyai uang bila saya sakit?, bagaimana dengan cicilan rumah saya yang tinggal 8 tahun lagi bila saya tiba-tiba di PHK oleh kantor? Bagaimana jika saya (paling apes) meninggal? Apa istri dan anak-anak saya dapat meneruskan hidup mereka? “

Rasa was-was

Saya yakin pertanyaan-pertanyaan di atas selalu ada di kepala setiap orang khususnya pegawai swasta seperti saya. Rasa was-was itu selalu ada di benak saya setiap hari dan seperti menjadi suatu beban yang tidak kunjung hilang. Saya berumur 30 tahun di akhir tahun 2006 ini, telah selama bekerja 6 tahun pada salah satu perusahaan swasta.Memang di perusahaan ini para karyawan didaftarkan ke Jamsostek, tapi terus terang saya tidak begitu mengerti perlindungan apa yang kita dapat dari program ini, dan juga saya mendengar perlakukan tidak simpatik dari petugas rumah sakit dan instansi lainnya kepada karyawan yang menggunakan fasilitas ini.

Keadaan perusahaan yang tidak dapat diprediksi ke depan, saya juga tidak yakin apakah perusahaan ini akan tetap exist 2-5 tahun mendatang. Bila waktunya tiba perusahaan bangkrut/failit, dan harus mem-PHK karyawannya, maka matilah saya…. Atau jika saya melakukan kesalahan tidak peduli apakah kesalahan itu besar atau kecil, disengaja atau tidak sengaja yang konsekuensinya di PHK. Kemana saya harus pergi?. Saya yakin tidak akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah, mengingat keadaan negeri ini yang semakin hari morat marit dan lapangan kerja menjadi sulit. Apalagi usia saya tidak muda lagi, dan tentunya tidak semudah kalau saya berumur 24-27 tahun. Dimana untuk range usia ini dapat mendapat pekerjaan agak lebih mudah pada Entry position. Tapi untuk pelamar yang berumur 30-40 tahun maka jabatan yang diincar tidak akan Entry point lagi tapi lebih ke jabatan manager atau supervisor. Tetapi sekali lagi berapa buah jabatan manajer yang lowong pada setiap perusahaan? Paling satu atau dua.

Seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998 di puncak krisis moneter. Banyak sekali perusahaan yang mem-PHK karyawannya. Untuk jabatan OB (office boy) mungkin lebih mudah mendapatkan pekerjaan kembali yach paling jadi pelayan restorant, hitung-hitung downgrade dari bersih-bersih di gedung bertingkat sekarang tetap “bersih-bersih” di restoran pinggir jalan. Lha kalo dulunya seorang manajer terus di PHK dan mengharapkan pekerjaan lain, masak jadi OB, downgrade nya curam banget! Freefall kali. Maka seperti yang kita baca di koran-koran banyak mantan manajer ini yang jadi gila dan stress.

Karyawan BUMN

Lain halnya dengan teman-teman saya yang bernasib baik dapat bekerja di Perusahaan BUMN , pegawai negeri atau perusahaan yang “Well established” lainnya. Dimana jaminan kesehatan dan dana pesiun diatur dengan jelas. Mereka tidak perlu was was toch semua telah dan akan di tanggung oleh perusahaan. Seperti Pertamina, PLN, Telkom yang memberikan jaminan kesehatan dan hari tua kepada karyawannya.

Nggak mungkin khan kalo PLN atau PLN tiba-tiba bangkrut? Walaupun bangkrut seperti PT Dirgantara Indonesia (DI) tetapi pesangon yang besar telah menanti mereka.

Life is so fragile

Tapi ketika saya melihat diri saya sekarang, betapa “fragile” -nya hidup saya. Sewaktu-waktu dapat hancur lebur dikarenakan mungkin saya sakit parah, kecelakaan, dipecat, atau perusahaan dimana saya bekerja jatuh bangkrut. Yach memang semuanya kita serahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Esa, Rezeki itu telah di atur, Tetapi saya lebih banyak berfikir realistis!. Kalo saya dipecat tentunya gaji bulanan saya terhenti, tentunya juga keuangan saya akan memburuk  Dari mana uang untuk membayar cicilan KPR, uang makan bulanan, biaya sekolah anak-anak, tagihan listrik, tagihan PAM, dan biaya hidup lainnya?. Mungkin saya mempunyai tabungan emergency tapi uang tabungan ini bertahan sampai kapan? Apakah cukup sampai saya dapat pekerjaan baru, atau bila tabungan saya habis, maka tidak ada pilihan kecuali menjual barang-barang, jual TV, jual kipas angin, jual tempat tidur, jual kompor, jangan-jangan akhirnya jual istri, kalo jual diri rasanya nggak mungkin, Tante girang mana yang mau memakai jasa saya dimana saya tidak ganteng lagi dan tubuh saya tidak lebih menarik dari suami-suami mereka (baca: gendut). dan dipastikan saya berada di ambang kehancuran.

Kalau saya terkena kecelakaaan atau sakit keras, waduh dari mana saya bisa membayar biaya pengobatan saya? Biaya rumah sakit aja puluhan juta bahkan ratusan juta. Bagaimana jika sakit saya agak bonafite kaya’ sakitnya orang kaya: Jantung, Liver, Gagal ginjal, stroke dan penyakit “keren” lainya.

Insurance, no way!

Ada teman yang menyarankan untuk masuk asuransi jiwa dan kesehatan, sehingga bila kita sakit atau meninggal maka asuransi dapat menanggung semua biaya yang timbul. Tetapi ada juga yang mempunyai statement, buat apa masuk asuransi bila nanti kita Claim maka pihak asuransi akan berusaha sekeras mungkin untuk menolak claim dengan alasan ini itu. Dan pada akhirnya uang kita tidak bisa diambil kembali. Atau the worse case, perusahaan asuransinya failit seperti yang terjadi pada Prudential beberapa waktu yang lalu.

Life day to day

Akhirnya saya berkesimpulan menjalani hidup ini dari hari ke hari saja. Kita masih hidup hari ini syukur, masalah besok?, “tak” pikirin ntar. Bisa makan enak hari ini yach nikmati aja, mungkin besok udah nggak bisa makan lagi, bisa jadi karena tidak ada uang untuk membeli makanan atau sakit keras dan tidak bisa makan atau sudah ada di liang kubur (pasti dong nggak butuh makan lagi).

Hidup hanya dari hari ke hari tanpa harapan tanpa masa depan…hanya menanti nasib dan takdir dari Tuhan, iya kalau pun Tuhan masih mempunyai belas kasihan kepada hidup ini tapi kalau tidak yach…. L

Leave a Reply