Nasib Bangsa Terjajah
Peristiwa-peristiwa ini terjadi di tahun 2000-an
“Hanya dua langkah berselang setelah saya meninggalkan ruangan mewah Hotel Ambhara di kawasan Blok M. Agak kaget memang melihat pamandangan yang begitu kontras, di dalam saya menyaksikan puluhan bule lagi bersenang-senang di bar, minum wiski, menghisap cerutu Cuba, menyodok bola putih di meja billyard nan hijau dan sesekali mencolek pant** si pelayan bar berwajah melayu. Tetapi apa yang saya lihat diluar hotel ini, puluhan abang-abang tukang bajaj menunggu penumpang sembari menghapus keringat dengan harapan akan mendapat uang “gocengan” dari jasa pengantar penumpang….. Diseberang jalan saya melihat anak-anak jalanan bertelanjang kaki berlari ditengah mobil dan motor sambil mengacungkan tangan meminta uang gopekan. Di sisi jalan yang lain beberapa pedagang asongan berpacu cepat memberikan uang kembalian dari pembeli di mobil yang bergegas berjalan karena lampu hijau telah menyala……
* * * * *
Waktu itu jam makan siang di 2 Gedung kembar Sumitmas di kawasan Sudirman..saya lihat puluhan pegawai lokal lagi menikmati makan siang di semua kantin sederhana. Walau pelu terus mengalir di muka mereka tidak perdulikan asal makan siang cepat terhabiskan dan kembali ke kantor tepat waktu. Terkadang karena seluruh tempat duduk terisi penuh beberapa orang harus duduk lesehan. Hanya beberapa meter dari tempat itu, di sebuah Restorant Jepang, beberapa ekspatriat Jepang berdasi rapi lagi menikmati “Terayaki” di iringi alunan musik lembut dan deraian angin sepoi-sepoi ruang ber-AC…
* * * * *
Seorang buruh sebuah pabrik milik Korea di kawasan Cibitung, sedang diomelin atasan seorang Korea karena tidak becus bekerja. Sang bos Korea ini dengan bahasa Indonesia yang sedikit “keseleo” meng-gobrok-goblokkan dan meng- anj**ng-anj**ngkan si buruh Indonesia tadi. Tanpa perlawanan si buruh Indonesia hanya mengangguk-angguk meng-iyahkan semua perkataan tidak senonoh dari si Korea tadi. Di pabrik ini buruh-buruh Indonesia harus bekerja lebih dari 10 jam sehari melebihi waktu kerja 40 jam per minggu dari Depnaker dan ironisnya mereka mendapat gaji yang hampir “nyerempet” batas UMR. Kebijaksanaan Perburuhan yang selalu memihak kepada kepentingan pengusaha dan dengan “dalih” memberikan kemudahan untuk penanaman Investasi asing. Secara nyata semua kebijaksanaan ini semakin menyengsarahkan buruh, seperti pambatasan hak untuk mendirikan atau bergabung dengan syarikat pekerja, tidak adanya kepastian perlindungan kesehatan, pesangon bila di PHK, dan kesejahteraan hari tua. Lain halnya dengan Pemerintah Perancis, setelah dilanda dengan demonstrasi besar-besaran dari buruh, President Jacques Chirac yang memang berpandangan Sosialist membatalkan rencana UU perburuhan yang kontravesial itu. Tapi tidak terjadi di Indonesia, walau ribuan buruh berdemonstasi menentang revisi UU No.13/2003, Wapres Jusuf Kalla yang memang berpandangan Kapitalis bersikukuh untuk tetapi menjalankan revisi ini.
* * * * *
Masih segar diingatan kita seorang TKW Indonesia yang disiksa oleh majikannya di Malaysia. Tidak diberi makan apalagi gaji. Sehingga banyak TKW yang pulang ke kampung halaman dalam keadaaan sekarat atau gila. Setiap tahunnya Indonesia “mengeksport” ribuan orang TKW dan TKI tanpa dibekali dengan keahlian khusus kecuali menjadi pembantu rumah tangga dan sebagai buruh kasar di perkebunan kelapa sawit. Tidak banyak dari TKW ini, untuk menutupi biaya hidup mereka “nyambi” sebagai pelac***r atau memang agenda mereka keluar negeri hanya untuk menjalani pekerjaan ini.
* * * * *
Banyak kita lihat ekspatriat asing yang bermewah-mewah di sini, dengan segala fasilitas dari kentor dimana dia bekerja. Dari kebutuhan pribadi, anak, istri sampai makanan ANJ**NG peliharaannya di tangung kantor. Mereka hidup di apartement mewah dengan beribu fasilitas dan kesenangan. Menghabiskan malam minggu mereka di cafe atau diskotik mahal. Berlibur ke Bali atau Singapore setiap saat. Mendapatkan jatah cuti 3 bulan setahun belum terhitung untuk Cristmas dan Newyear Holiday. Mungkin mereka mendapatkan kehidupan yang lebih mewah dibandingkan mereka ada di negara asal. Coba kita lihat pegawai Indonesia yang bekerja di perusahaan yang sama, dangan gaji 1 ½ juta sebulan harus menghidupi anak-istri. Jatah cuti hanya 12 hari setahun. Harus datang tepat waktu pada jam 8.30. Selalu giat bekerja dengan harapan di akhir tahun dapat bonus tambahan.
* * * * *
Sewaktu melintas di Jalan Terogong Pondok Indah, Puluhan anak-anak bule menuntut ilmu di sebuah Sekolah international asuhan Pemerintah USA. Dengan bermacam fasilitas dan sistem pendidikan mukhta’ahir diharapkan pelajar ini dapat menjadi anak-anak yang pintar. Guru-guru yang khusus didatang dari Amerika dan negara asing akan selalu setiap untuk membimbing anak-anak ini. Setiap pagi dan sore di antar-jemput oleh mobil-mobil mewah. Tidak jauh dari itu banyak anak-anak Indonesia yang notabene “empuhnya” negeri ini, harus putus sekolah karena orang tuanya tidak bisa membiayai pendidikan mereka. Kalau pun sekolah di SD Inpress dengan dinding yang hampir roboh.
* * * * *
Makin hari hutang luar negeri terhadap badan keuangan asing seperti IMF, UNDP, ADB semakin “meruju”. Hasil kalkulasi independen, hutang ini tidak akan dapat lunas walau untuk 3 generasi mendatang. Beberapa badan keuangan ini mengintervensi kebijaksaaan interen negeri ini, seakan pemerintah kita hanyalah “boneka” permainan mereka.
* * * * *
Kekayaaan alam Indonesia dikuras habis oleh perusahaan asing yang berlindung dari kebijaksanaan “profit sharing”, yang nyata-nyata hanya menghisap madu “alam” Indonesia tanpa memberikan nilai tambah kepada penduduk Indonesia. Ribuan ladang minyak dieksploitasi, namun harga BBM tetap melambung. Tanah Riau yang kaya minyak (Nomor Polisi kendaraan Riau adalah “BM” yang berarti “Banyak Minyak”) di ‘sedot” habis untuk kepentingan perusahaan asing seperti Caltex, Total, BP, Conoco dll, tanpa ada timbal balik dengan penduduk lokal. Sangat tragis memang, Propinsi Riau yang kaya minyak tapi prosentasi IDT ( Inpress Desa Tertinggal) cukup besar. Tanah Papua yang mengandung ton emas dan perak digaruk habis oleh Freeport tanpa memberikan “added value” kepada rakyat Papua, yang kian hari nasib tidak lebih baik. Wajar bila terjadi penomena “disintegrasi” di daerah-daerah ini. Kemanakah semua uang keuntungan dari sumber daya alam ini, tak lain hanya lari ke negara-negara asing dan sedikit ke “kocek” oknum-oknum pejabat korup.
Peristiwa-peristiwa ini terjadi di tahun 1700-1943
Mijnheer en Mevrouw, Sinjo en Noni Belanda bercengkramah gembira di sebuah restoran. sedang di luar kaum pribumi bermandikan keringat menyabit rumput dan mengerjakan pekerjaan kasar lainnya.
Bila si Mijnheer dan si Mevrouw berjalan berpapasan orang-orang pribumi ini, mereka akan membungkuk dengan hormatnya sambil berkata : “TABEEK MENIIRRR……!” TABEEEEK NNDOROOO…..!
* * * * *
Seorang kakek harus kehilangan gigi satu-satunya hari itu karena ditendang oleh seorang perwira jepang di sebuah kamp kerja paksa Romusha. Dan ribuan orang-orang sakit dan meninggal dalam kondisi yang mengerikan karena perlakuan buruk oleh Tentara Jepang.
* * * * *
Ribuan gadis-gadis Indonesia dinodai kegadisannya oleh pasukan tentara Jepang yang dijadikan sebagai Jugun ianfu. Kemudian di kirim ke Birma. Philiphina dan negara lain untuk pemuas nafsu tentara di front lain.
* * * * *
Sinjo dan nony-nony Belanda pergi ke sekolah yang mewah dengan guru-guru yang spesial didatangkan dari Holland. Setiap pagi dengan gembira bernyanyi.
Wilhelmus van Nassauwe….ben ik, van Duitsen bloed….den vaderland getrouwe……
Sementara di luar gedung sekolah anak-anak pribumi dengan bertelanjang kaki belajar di bawah pohon beralaskan tanah atau dikirim ke pesantren-pesantren yang hanya belajar “ngaji”.
* * * * *
Kekayaan Tanah Indonesia dikeruk habis oleh VOC dan pemerintah Dutch East Indies, untuk memperkaya negeri Belanda yang besarnya “seujung kelingking”. Sehingga mereka bisa mendirikan bendungan (dam) sekeliling pantai dan menimbun laut sehingga dapat ditempati manusia.
Jadi apa bedanya dulu dan sekarang.?
Tidak ada beda antara dulu dan sekarang, Bangsa Indonesia tetap sebagai BANGSA TERJAJAH !!. Mungkin secara de jure, Indonesia telah resmi diakui PBB sebagai Bangsa yang merdeka sejak tahun 1949 namun apa yang terjadi di kehidupan sehari-hari tidak jauh beda dari 300 tahun yang lalu…
Apa yang dialami oleh kakek buyut kita sama yang menimpa kita sekarang, memang nasib kita tidak pernah berubah…. L
* * * * *