Pengalaman Pertama Naik Pesawat Air Asia

Airasia

 “Perhatian perhatian, para penumpang pesawat
Airasia No. QZ7525 tujuan Jakarta diharap segera menujuh gerbang 1, terima
kasih”.

Serta merta semua calon penumpang pesawat ini
bersegera menuju ke gerbang yang dimaksud, yach layaknya seperti naik bus di
terminal, tidak ada nomor seat pada boarding pas, sehingga siapa duluan masuk
pesawat dapat memilih tempat duduk sesuka hati. Saya tanya ke seorang calon
penumpang, “Pak nanti mao duduk dimana?”, “Wah saya pasti mao duduk di depan
donk” jawab si bapak pasti. “Lho kok didepan pak? Saya justru mao pilih duduk paling
belakang, karena disemua kecelakaan yang selamat pasti yang duduk paling
belakang”,
Si bapak :??^#$^)_&@#$#^??*@#&$.


Cuaca Buruk

Waktu itu jam
17.50, 28 Juli 2006, waktu saya memasuki ruang tunggu Bandara Minangkabau
Padang, untuk segera memasuki pesawat. Kebetulan agen langganan saya memberikan
tiket Airasia, karena penerbangan pesawat ini adalah the last flight ke Jakarta
hari itu. Airasia..? tentunya saya masih bertanya-tanya kenapa kok Airasia.
Tapi yach sudahlah! Yang penting saya malam ini sudah ada di rumah setelah
hampir satu minggu berada di Padang untuk kepentingan bisnis.

Sewaktu saya
menuju bandara cuaca lagi hujan dan berkabut. Teman saya yang mengantar
berkata, “Wah pak saat yang buruk untuk naik pesawat, banyak awan hitam di
langit”. “Yach mudah-mudahan cuaca membaik sebentar lagi” jawab saya penuh
harap.

 

Pesawat dialihkan ke Medan

Setelah menunggu
hampir satu jam di ruang tunggu, terdengar pengumuman bahwa 2 pesawat dari
Jakarta yang seharusnya tiba di Padang dialihkan dan mendarat di Medan, karena
pilot tidak dapat melihat landasan. Sedangkan pesawat Mandala yang harusnya
take off dari Bandara Minangkabau pada jam 18.00 membatalkan takeoff karena
kabut semakin tebal, dan ketinggian air di landasan pacu melebihi batas yang
diijinkan.

Setelah menunggu
3 jam, akhirnya pada jam 21.15 Pesawat Air Asia yang ditunggu mendarat di
bandara Minangkabau.

 

Konsep LCC (Low Cost
Carrier)

Air Asia adalah
maskapai pertama di Indonesia yang mengusung konsep LCC atau Low Cost Carrier. Dimana manajemen
maskapai menerapkan kebijaksaaan untuk menekan biaya operasional dan dampaknya
akan menurunkan harga tiket. Waktu itu harga tiket Padang- Jakarta hanya Rp.
317 ribu. Dibandingkan dengan ongkos bis antar kota dengan tujuan yang sama,
mungkin harganya tidak jauh berbeda. Beberapa faktor yang dapat menurunkan biaya
adalah: Sedikitnya jumlah pramugari, jika pada maskapai lain dengan jenis
pesawat yang sama, Air Asia mempunyai kabin kru yang sedikit, hanya 2 pilot dan
3 orang pramugari untuk pesawat Boeing 737-400 dengan kapasitas 140 tempat
duduk. Lain halnya dengan maskapai lain yang mempunyai 5-7 pramugari dalam satu
pesawat. Lebih-lebih Lion Air, kadang pramugarinya banyak sekali, tapi
kebanyakan hanya nampang doang, kerjanya minus, dengan penumpang agak kurang
senyum,  biasa cewek cantik belagu.

Snack dan
beraneka makanan dan minuman di dalam pesawat dijual seperti halnya di darat.
Pramugari akan menjajakan makanan dan minuman dengan harga tertentu. Jadi kalau
dulu kita beranggapan makan minum di pesawat itu gratis, maka di Air Asia
jangan berharap dech..

No seat number,
Di boarding pass tidak tertulis nomor
kursi dimana kita harus duduk tidak seperti maskapai lain yang telah menentukan
dimana anda harus duduk. Kebijaksanaan ini beralasan untuk mengurangi jumlah Ground Staffs yang mengatur check in,
boarding pass dan luggage. Jadi suasananya seperti di kereta api atau bus di
terminal, pada saat masuk terjadi desak-desakan siapa yang paling cepat masuk
ke pesawat. Ada satu hal yang aneh, kalau di bus orang-orang berebut agar bisa
duduk di depan dekat sopir dengan alasan bisa melihat pemandangan di luar,
tetapi kalau di Air Asia, justru orang-orang bersegera masuk pesawat agar dapat
duduk di deretan kursi paling belakang. Wajar bila demikian, karena hampir
semua kecelakaan, yang selamat biasanya duduk di deretan kursi paling belakang.

Tapi justru
karena tidak ditentukan nomor tempat duduk, proses pengisian penumpang menjadi
lebih cepat karena tidak ada penumpang yang salah tempat duduk.

 

Terbang Mulus

Pesawat Air Asia
yang saya tumpangi kali ini lumayan tidak tua seperti maskapai swasta
Indonesia lainnya. Paling tidak jumlah kursi tidak dikurang atau ditambah.
Kondisi Interior pesawat juga tidak mengecewakan. Saya tidak bisa mengatakan
bahwa semua pesawat Air Asia bagus, karena saya baru kali ini menggunakan jasa
maskapai aliansi antara Malaysia dan Indonesia ini. Untuk lebih detail dapat
melihat tulisan saya tentang kondisi
dan umur pesawat maskapai swasta Indonesia.

Ketika pesawat
kita take off, hujan masih rintik-rintik tetapi langit cerah dan kabut telah
turun. Alhamdulillah penerbangan
malam itu tidak se-frightening
sebelumnya dan justru berjalan dengan mulus tanpa goncangan yang berarti.
Mungkin malam itu langit cerah setelah hujan turun dengan lebatnya. Setelah
terbang selama hampir 1 ½ jam, kita mendarat di Bandara Soekarna Hatta Jakarta.
Tak lupa sebelum keluar dari pesawat saya hidupkan HP dan mengirim sms di
keluarga di rumah bahwa saya sudah tiba dengan selamat di Jakarta
:)

One Response to “Pengalaman Pertama Naik Pesawat Air Asia”

  1. Lia Says:

    duh tar malem juga giliran aku n friends nih yg naek air asia menuju bali…
    udah biasa klu harus naek pesawat aku pasti negative thinking trusss….
    but i’m sure , God always take care of me

Leave a Reply